Kamis, 26 Februari 2009


Kamis, 26 Februari 2009, pukul 21.00 WIB, Kartasura, Surakarta.
* * *
Pertemuan yang tak pernah kusangka itu terjadi di Kelurahan Semanggi,
Pasar Kliwon, Solo, Selasa (24/2) siang. Seorang pakar ilmu astrologi
dari Keraton Kasunanan Surakarta, KRH Darmodipuro,71, mendadak akrab
denganku, tanpa perkenalan panjang sebelumnya. Cukup menunjukan kartu
persku, dia langsung menganggapku bagian darinya. Aku mengetahui
sejarah singkat tentangnya dari cerita-cerita yang berseliweran di
kalangan wartawan. Nama Mbah Hadi adalah panggilan akrabnya di
telinga warga Solo, ketimbang nama aslinya, KRH Darmodipuro. Sejak
puluhan tahun, dia mendapat amanat dari keraton untuk mengurusi museum
tertua di Indonesia, Radya Pusataka. Namun, akibat ulah nakal anak
buahnya yang menjual arca-arca kuno museum kepada kolektor, dia pun
kena getahnya. Dia terpaksa meringkuk di balik jeruji penjara hampir setahun. Sejak itulah, karirnya sebagai juru kunci museum yang
memiliki segudang koleksi karya pujangga termashyur Ronggo Warsito itu
berakhir.
Kini, Mbah Hadi mulai mengisi hari-hari senjanya di rumah sederhananya
sambil menerima puluhan tamu setiap harinya yang tak jarang hanya
minta petunjuk hitungan hari (pawukon).
Kemahiran Mbah Hadi dalam perkara yang satu ini (pawukon) memang sudah
tak diragukan lagi. Dua kali dia mengisi ceramah di BBC London, untuk
mendedah ilmu astrologi yang dia kuasai itu. Dalam waktu dekat, dia
rencananya juga akan mengisi acara di luar negeri untuk mendedah ilmu astrologi Jawa.
Berderet penghargaan dari berbagai kalangan, mulai walikota, Presiden
Soeharto, Megawati, hingga SBY dia pajang di rumahnya. Tak terkecuali
penghargaan dari Tabloid Posmo, salah satu media yang konsen pada
liputan ilmu metafisika. Berderet pengusaha besar di Solo dan para
pejabat tinggi lainnya, banyak yang berhutang budi kepadanya. Pun
demikian Solopos. Berkat kecermatan Mbah Hadi dalam menghitung
angka-angka hari, Solopos telah menjadi salah satu media terbesar di
wilayah Karesidenen Surakarta. Dengan tiras 40.000-50.000 setiap
harinya, Solopos telah menjadi media utama paling berpengaruh di
wilayah yang berpopulasi penduduk 7 juta jiwa dan memiliki tingkat
perkembangan ekonomi paling atraktif sepanjang tahun terakhir.
Padahal, fakta sejarah telah membuktikan, Solo adalah kawasan yang
mendapat ‘kutukan’ sebagai kuburan koran. Di mana ada koran yang
mencoba berdiri, maka hanya akan berujung kematian. Dan itu terjadi
sejak negeri ini merdeka. Namun, Solopos telah mengubah ‘kutukan' itu.
Dalam hal ini, keterlibatan Mbah Hadi dalam membaca tanda zaman tak
bisa diremehkan.

* * *
Siang itu, dia menerimaku layaknya seorang kerabat dekat yang telah
lama tak bersua. Di ruang tamunya yang tak terlalu luas itu, dia
berkisah tentang kejadian-kejadian yang mengguncang negeri ini sejak
beberapa tahun terakhir. Sesekali dia melangkah masuk ke ruang tengah,
lantas kembali ke ruang tamu dengan membawa sejumlah lembaran kertas.
Dari lembaran kertas itu, dia juga berkisah tentang banyak hal.
Tentang kesedihannya kepada Presiden Soekarno yang mati sengsara.
Tentang kejengkelannya kepada sikap SBY akhir-akhir ini yang
menurutnya telah melecehkan ilmu kebudayan Jawa. Juga tentang
musibah-musibah yang bakal terjadi di negeri ini. Ia tahu hanya dengan
menggunakan hitungan perbintangan Jawa. Dia tak segan menjawab setiap
pertanyaan yang kuajukan. Bahkan, tak jarang ia menyelingi
kisah-kisahnya dengan guyon.
* * *
Ketika jarum jam merangkak mendekati pukul 15.00 WIB, aku pun mencoba
bertanya tentang sesuatu yang amat pribadi tentangku. Ada wajah serius
yang terlihat. Dia masuk ke ruang tengah mencari sesuatu dalam
tumpukan buku. Tak seberapa lama, dia kembali dengan metenteng sebuah
buku kuno bertuliskan aksara Jawa. Buku itu terlihat telah usang
termakan usia. Di dalamnya tertulis berbagai angka-angka dan aksara
Jawa kuno seperti sebuah kitab. Rupanya, buku itulah yang mengajari
Mbah Hadi selama ini tentang ilmu perbintangan.
“Kapan kamu dilahirkan?” tanyanya kepadaku.
“23 Januari 1983!” jawabku singkat.
Perlahan namun pasti, jari-jarinya mulai sibuk membuka lembaran demi
lembaran bukunya itu. Setiap lembaran yang dibalik Mbah Hadi,
kurasakan waktu ini seakan mundur ke belakang. Semakin banyak lembaran
yang ia balik, semakin panjang pula waktu yang bergerak mundur. Dan
rupanya, ia tengah menelusuri jejak kelahiranku seperempat abad silam.
“Hhmmmm….” Suara Mbah Hadi setelah berhenti membalik lembaran.
Aku menduga, dia tengah mengamati angka-angka yang ia temukan itu.
Sesaat, dia termanggut-manggut dengan wajah yang cerah.
“Kamu memiliki wuku wayang, yakni seorang yang berjiwa satrio wibowo.
Apik....apik....,” ujarnya mantap dan berirama.
“Kalau 3 September 1987?” tanyaku kembali.
Dia kembali sibuk membalik lembaran-demi lembaran buku kuno itu.
Begitu sudah menemukan, dia terdiam seperti tengah mengamati dengan
serius.
“Hmmm…ini juga bagus sekali. Wuku wayang. Satrio wibowo,” paparnya.
Namun, tak seberapa lama, dia menatapku dengan mata serius setengah keheranan.
“Siapa dia? Calonmu?” tanyanya.
Aku menganggukkan kepala. Tiba-tiba, seulas senyum mengembang dari
bibir Mbah Hadi. Ia berkali-kali menganggukkan kepala.
“Apik tenan. Kalian memiliki wuku wayang, sama dengan Bung Karno yang
berjiwa ksatria. Kehidupan kalian akan dipenuhi ketentraman,
kebahagiaan, dan menjadi seorang pemimpin. Dua wuku yang sama-sama
memiliki watak satrio wibowo. Tanggal 23 Januari 1983 adalah Minggu
Wage. Dilihat dengan ilmu perbintangan memiliki angka 5 + 4 = 9.
Calonmu 3 September 1987, lahir Kamis Pon, memiliki angka 8 + 7 = 15.
Wukunya wayang. Jiwa kalian satrio wibowo. Penuh kebahagiaan. 9 + 15
= 24. angka yang bagus…”

* * *
Begitulah Mbah Hadi berkutbah dengan riangnya. Dia seperti menemukan
karib kerabat. Wajahnya benar-benar sumringah, secerah sinar mentari
dan selembut purnama.
Aku pun pulang mengangkut sekeranjang senyum Mbah Hadi yang indah
penuh keikhalasan itu. Senyum satrio wibowo. Senyum wuku wayang. Ya,
itulah yang ternyata membuat Mbah Hadi sanggup tersenyum penuh
ketenangan setelah sekian waktu tertahan lantaran meringkuk di dalam
penjara.
“Saat ini banyak satrio wirang. Seorang yang dipuja-puja, ternyata
penuh kepalsuan hingga dia harus dipermalukan oleh ulahnya sendiri.
Jadilah satrio wibowo yang benar-benar memiliki jiwa kenegarawanan,
pemimpin…” nasehatnya kala itu sambil menjabat tanganku.
* * * *

Jumat, 10 Oktober 2008

liputan...


di puncak gunung klotok kediri...

Minggu, 17 Agustus 2008


indah sekali ya dik??ke sana yuk?

baca puisi atau teriak-teriak


ha..ha..inilah penyair chairil amatir yang gagal

foto orang ilang


kasihani dia dik?

masih tentang adiku...


ini juga foto adikku yang cakep itu. hihi...(wajahnya kok sedih keliatannya ya?jangan sedih sayang...)